Pengadilan Tinggi Agama Maluku Utara

Ke Sofifi ? Siapa takut ?

Oleh, Anas Malik

Di penghujung 2018 saya mendapat tugas baru sebagai hakim tinggi di wilayah Pengadilan Tinggi Agama Maluku Utara.

Segera kubuka internet untuk mencari tahu letak dan denah Pengadilan Tinggi Agama tersebut.

Ternyata selama ini saya keliru karena dalam benakku ibukota Propinsi Maluku Utara adalah Ternate sebagai sebagai kota terbesar diwilayah itu, lagi pula sejauh yang saya tahu untuk menjangkau daerah tersebut dengan pesawat berbadan lebar hanya dapat mendarat di bandara udara “ Sultan Babullah”  di Ternate.

Dengan asumsi tersebut sebagaimana lazimnya tentu saja Pengadilan Tinggi Agama Maluku Utara sebagai induk Pengadilan Agama kabupaten kota berkedudukan di Kota Ternate.

Melalui internet juga saya tahu bahwa ada yang benar dalam benakku selama ini sepanjang mengenai Ternate sebagai kota terbesar diwilayah itu namun selebihnya keliru karena Ternate bukan ibukota Propinsi Maluku Utara tentu saja tidak menjadi tempat dimana Pengadilan Agama Maluku Utara berkedudukan melainkan di “Sofifi” .

Penasaran dengan “ Sofifi  yang masih asing ditelinga, “  saya mencoba membuka peta.

Meskipun di  peta dunia, Ternate tak lebih dari sebuah titik namun mungkin karena sebagai kota terbesar di Maluku Utara dengan latar belakang sejarah panjang dengan mata telanjang saja “Ternate “ masih dapat terbaca.

Berbeda dengan Sofifi yang popularitas dan sejarahnya belum begitu mencuat, bagi orang seperti saya tidak semudah mencari dan menemukan sebagaimana menemukan Ternate dalam peta.

Setelah letak kacamataku sedikit kudorong keatas tepat di pangkal hidungku dan peta kutarik lebih dekat kemataku, kutemukanlah huruf-huruf halus yang kemudian terbaca “ Sofifi “.

Sofifi ternyata terletak di pulau Halmahera, posisi tengah dipesisir barat  diantarai laut sebelah timur Ternate.

Mungkin karena pulau Halmahera merupakan pulau terbesar diwilayah propinsi Maluku Utara sehingga menjadi salah satu faktor  pertimbangan utama menempatkan ibukota propinsi di pulau tersebut. Mungkin saja, itu hanya dalam benakku.

Kurang lebih seminggu berselang, saya mendapat pemberitahuan dari Pengadilan Tinggi Agama Maluku Utara untuk bersiap-siap kesana karena rencana pelantikan akan dilaksanakan pada tanggal 4 Januari 2019.

Sehabis acara perpisahan dengan teman-teman sekantor di Jakarta, saya dengan isteri berkemas berangkat dua hari menjelang pelantikan, dan sebelumnya dapat informasi akan di jemput di bandara oleh panitia penjemputan.

Pagi sekitar pukul 8, 2 Januari 2019 saya mendarat di bandara Sultan Babullah Ternate, bandara dengan arsitektur khas Ternate bersih dan cukup besar diterpa sinar matahari pagi yang lembut selembut dan seramah dengan teman-teman dari panitia penjemputan  menghapus rasa ngantuk dan lelah perjalanan kami Jakarta-Ternate.

Didepan pintu kedatangan bandara serasa ada penjemputan agung, karena begitu keluar dari pintu pandangan mata langsung tertuju pada gunung Gamalama yang berdiri tegar kokoh seakan melambai kepada kami dan berkata “ Selamat datang di negeri para Sultan penyebar Islam “.

Dari bandara yang tepat berada dikaki gunung Gamalama kendaraan yang membawa kami menelusuri kota Ternate menuju pelabuhan feri Bastiong.

Sepanjang jalan di kota Ternate yang rapi dan bersih itu tak pernah luput dari pemandangan alam yang indah karena posisi kota Ternate terletak diantara kaki gunung Gamalama yang hijau asri dan bibir pantai dengan laut yang membiru.

Di dalam kota ini hampir kita tidak pernah menyaksikan indikator masalah masyarakat perkotaan pada umumnya, tumpukan sampah, pengemis dan sebagainya.

Saya pernah mendengar dan setuju dengan salah satu hasil survei yang menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan/kesejahteraan tertinggi rata-rata nasional berada di Ternate dan sekitarnya.

Kurang dari sejam melintas diantara masyarakat kota yang memulai aktifitasnya di pagi hari tanpa kemacetan kami sampai di Bastiong, tempat dimana pelabuhan feri berada.

Di dalam terminal terpampang jadwal dan tujuan pemberangkatan kapal penyeberangan, diantaranya menuju ke tujuan kami “ Sofifi”.

Dengan tiket seharga RP.20.000 an perorang kami duduk didalam kapal menuju Sofifi.

Setelah para penumpang dan kendaraan bermotor masing-masing menempati tempat yang disediakan, terompet kapal berbunyi dan kapal bergerak perlahan.

Memulai pelayaran laut, alam Ternate kembali menyuguhkan pemandangan yang indah, diatas laut biru yang bersih dan bening, hembusan angin yang lembut nan sejuk, kicauan camar yang riang, kapal bertolak diantara dua gunung yang menjulang tinggi.

Disebelah kiri gunung Gamalama yang kakinya diitari kota Ternate dan beberapa ratus meter disebelah kanan kapal ada pulau Tidore yang menghijau dengan gunungnya yang menjulang tinggi. Kunikmati semuanya dengan secangkir kopi panas yang kupesan dari café kapal.   

Kurang lebih satu jam berlayar puncak gunung Gamalama mulai nampak membiru karena semakin jauh dari kami dan seiring dengan itu didepan sana mulai nampak gunung-gunung pulau Halmahera dimana kota Sofifi berada.

Pemandangan yang indah belum berakhir, karena berselang beberapa menit dari posisi ini kapal serasa memasuki sebuah teluk, disebelah kiri kapal tampak daratan menyerupai tanjung yang mencolok kebarat sedangkan disebelah kanan tampak kota Tidore  yang terletak di pulau Tidore.

Rupanya Sofifi itu berhadapan langsung dengan dua kota, disebelah barat ada kota Ternate dan disebelah barat daya yang posisinya lebih dekat ada kota Tidore.

Sekitar pukul 11 menjelang siang hari, kapal merapat di pelabuhan feri Sofifi. Riuh rendah suara penumpang dan kendaraan yang bergegas meninggalkan kapal. Sesekali terdengar ucapan setengah berteriak: Tobelo, Weda, Tobelo, Weda, Tobelo, Tobelo, Weda, demikian para sopir menawarkan jasa bagi para penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan darat ke kota Tobelo di utara dan ke kota Weda di timur.

Kami tak menggubris tawaran itu karena tujuan kami hanya Sofifi dan kami sudah sampai disini.

Hanya disekitar area pelabuhan saja terasa sejenak ada hiruk pikuk, beberapa puluh meter diluar itu terasa suasana tenang nyaris sepi, jauh dari semraut, macet, pasar tumpah, sebagaimana kota-kota ibukota propinsi pada umumnya.

Jalanan mulus, lebar melompong dengan lampu mercuri penerang jalan.

Trafiglight yang ada diperempatan kota terkesan pemborosan karena belum mutlak ditaati, arus lalu lintas masih berjalan normal.

Jasa pelayanan secara online belum begitu dibutuhkan, untuk mengakses tempat tujuan tertentu misalnya, hanya mencatat nomor HP tukang ojek atau bentor, tinggal panggil dan dalam hitungan menit siap menjemput dan mengantar ketempat tujuan.

Rumah-rumah, toko-toko, warung-warung makan, kedai-kedai, apotik, pusat-pusat pelayanan kesehatan dan kantor-kantor pemerintah berjejer teratur dan rapi.

Area hijau dengan berbagai pepohonan dalam kota masih sangat mendominasi, udara masih terasa segar nyaris tanpa polusi.

Dibandingkan dengan kriteria kota-kota di pulau Jawa, kota Sofifi lebih cenderung kekriteria desa meskipun penduduknya sudah multi etnik dan profesi.

 Rumah dinasku yang minimalis dengan halaman dan pemandangan yang asri hanya berjarak beberapa meter dari kantorku berada dalam sebuah kompleks yang dilengkapi dengan sarana tempat ibadah dan olah raga.

Di sore hari pertamaku, saya dan isteri diajak oleh teman untuk jalan-jalan mengitari kota dan singgah ditepian hutan bakau dibatas kota.

Hutan bakau yang terawat bersih selain berfungsi mencegah abrasi, melestarikan beberapa biota laut, juga berfungsi sebagai rest area yang dilengkapi dengan café-café yang menyajikan minuman dan penganan khas Sofifi, kunikmati, terasa kusemakin masuk ke relung-relung kehidupan kota kecil ini.

Bila ingin menikmati kehidupan kota dengan fasilitas modern, kata teman-teman baruku yang menyertaiku, alternatifnya adalah kota Tidore atau kota Ternate.

Tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam, cukup RP.50.000 an perorang speedboat dalam waktu kurang lebih tiga puluh menit akan mengantarkan kita menikmati kehidupan di kedua kota modern tersebut.

Anganku melayang menggapai hari-hari esokku yang cerah di kota kecilku ini, buyar segala khawatirku selama ini seiring bergerak perlahannya mentari senja di ufuk barat.

Akhirnya……….ke Sofifi ? “siapa takut”

 

                                                                                                    Sofifi, Januari 2019


3 Komentar

  1. Pendaftaran Online
    Pendaftaran Online
    06 Juli 2019 - 08:28:58 WIB

    Tugas harus dilaksanakan dengan baik. http://goo.gl/sSkoY0

  1. Umpan Ikan Bawal Galatama
    Umpan Ikan Bawal Galatama
    15 Juli 2019 - 14:07:11 WIB

    Terimakasih infonya, sukses terus,.
    Kunjungi juga http://bit.ly/2JFJZwc

  1. Barracuda
    Barracuda
    15 Juli 2019 - 14:07:42 WIB

Tulis Komentar